Artikel Lainnya

LAGU INDONESIA RAYA DI CATATAN SEJARAH SIN PO

May 04, 2018

Pada masa pendudukan Belanda, mengungkapkan hal-hal nasionalisme apalagi yang berbau kebangkitan bangsa sangatlah dilarang. Masyarakat seperti sedang menumpang di negeri sendiri. Media masa lebih cenderung pro terhadap kolonialisme. Bagaimana tidak? Sebagian media masa sudah di ‘setir’ oleh pemerintahan saat itu.

Di tengah keterbatasan gerak pers, surat kabar Sin Po muncul. Sin Po digagas oleh kaum muda Tionghoa peranakan yang merasa tidak puas dengan sikap yang ditunjukan oleh pemerintah kolonial Belanda. Surat kabar ini sangat dipengaruhi oleh nasionalisme Tiongkok yang digagas oleh Sun Yat Sen. Karena aliran politik yang bersifat Tionghoa itu, Sin Po dimusuhi pemerintah Belanda namun sangat disukai oleh kelompok pergerakan nasional.

Sin Po mulai terbit sejak tahun 1910 hingga era setelah kemerdekaan tahun 1965. Pertama kali Sin Po diterbitkan dalam bentuk surat kabar mingguan, dua tahun kemudian Sin Po terbit sebagai surat kabar harian. Pemimpin redaksi Sin Po pertama adalah JR Razoux Kuhr, seorang Indo-Belanda yang pernah menjadi pegawai negeri. Namun pada Mei 1916, Razoux Kuhr berhenti dan digantikan oleh Kwee Hing Tjiat hingga tahun 1918, selanjutnya digantikan oleh Tjoe Bou San hingga tahun 1925, dan Kwee Kek Beng hingga tahun 1947.

Beberapa orang Indonesia asli juga bekerja sebagai wartawan di surat kabar ini, seperti D. Koesoemaningrat dan W.R Supratman. Pada suatu hari W.R. Supratman datang ke kantornya dengan perasaan senang karena lagu ciptaanya yaitu Indonesia Raya diterima menjadi lagu kebangsaan. Mendengar kabar wartawannya menciptakan lagu kebangsaan, redaksi pun mengangkat cerita W.R. Supratman menjadi berita. Surat kabar ini memuat lagu syair Indonesia Raya ciptaan W.R. Supratman lengkap dengan notasi musiknya. Untuk petama kalinya lagu Indonesia Raya diperkenalkan ke seluruh penjuru Indonesia.

Sayangnya, upaya untuk mempublikasikan lagu kebangsaan Indonesia Raya malah menjadi boomerang bagi Sin Po. Sin Po sempat dibekukan peredarannya untuk sementara waktu. Pemerintah Kolonial sangat keras terhadap gerakan yang berbau kemerdekaan Indonesia.

Pada masa pendudukan Jepang, surat kabar ini sempat mendapat kekangan kembali dari pemerintah Jepang. Sin Po menjadi salah satu surat kabar yang ikut mengumpulkan sumbangan dan memberitakan mengenai kekejaman-kekejaman pasukan Jepang di Tiongkok. Imbasnya, para pemimpin surat kabar Melayu – Tionghoa ditangkap kemudian dimasukan ke penjara.

Setelah Jepang menyerah kepada sekutu, Sin Po pun mulai mengumpulkan sisa kekuatan untuk berdiri kembali. Pada tahun 1958, Sin Po sempat berganti nama karena aturan pemerintah yang tidak memperbolehkan penggunaan aksara lain selain latin. Sin Po berganti nama menjadi Pantjawarta, kemudian menjadi Warta Bhakti pada tahun 1960-an.

Pergantian nama ini tidak membuat Sin Po mampu bertahan dengan nasionalismenya. Nasib Sin Po lebur di masa Orde Baru. G30S PKI tidak hanya mematikan eksistesi surat kabar ini tetapi juga menutupnya dalam sejarah. (Aspertina –TR)

Sumber literature: Tionghoa Dalam Keindonesiaan, Kompas

Sumber foto: Pinterest

Sekretariat Aspertina
EightyEight@Kasablanka Building Floor 32nd Unit A
Jl. Casablanca Raya Kav. 88
Jakarta 12870. INDONESIA

Phone :+62 21-29820200. Fax : +62 21-29820144

Copyrights © 2011-2016. Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia. All Rights Reserved.