Peranakan Tionghoa di Nusantara (Iwan Santosa)

Peranakan Tionghoa di Nusantara (Iwan Santosa)

Peranakan Tionghoa di Nusantara (Iwan Santosa)


 

Buku terbitan baru ini merupakan kumpulan karangan wartawan KOMPAS , Sdr Iwan Ong dalam kurun waktu 2002 -2012.(agaknya anggota milis kita juga), sebagai seorang wartawan penulis menyampaikan tulisannya secara ringan dan gambaran sketsa. Mengingatkan potret yang dihasilkan oleh seorang fotographer berita. Artikel-artikelnya singkat, membawakan pesan nyaring, seolah kita sedang mengunyah krupuk... :-)) , dengan bahasa yang mudah dimengerti.

Sdr Iwan dalam penjelasan tulisannya langka mengacu para nara sumber dari bahan tulisan konvensional hasil penelitian yang pernah diterbitkan .
Untuk latar belakang pembahasannya lebih sering mengikuti keterangan lisan dari para nara sumber lisan diantaranya Sdr David Kwa, Sdr Eddy Prabowo
Witanto.

Menarik awal rekaman di Pulau Bali dari legenda asal Barong Landung (tinggi) dihubungkan dengan perkawinan seorang Raja Jaya Pangus dan seorang
perempuan Tionghoa. Dikemas berbarengan dengan menunjukkan banyaknya unsur-unsur kebiasaan, artefak budaya Bali, uang kepeng Tiongkok, homophone nama tempat , ngelawang, Barong Ket, membangkitkan keingin tahuan selanjutnya apakah benar merupakan suatu pengaruh akulturasi dua budaya ? Bercampur dengan budaya para migran yang telah berabad-abad berhubungan. Suatu penonjolan dari gejala sosial yang sangat bagus untuk dijadikan penelitian lebih lanjut oleh para ahli.

Agaknya ini merupakan materi baru yang sangat menarik untuk digali , bagian dari keragaman budaya dan masyarakat Nusantara.  Materi seperti ini mengingatkan kita pada gejala seorang tokoh yang disebut oleh Ibu Myra Sidharta sebagai " Konco Banyuwangi",  tokoh yang dihormati pada beberapa klenteng khusus di Selatan Bali dan Banyuwangi.  Seorang tokoh lokal yang tidak pernah muncul dalam penghormatan pada klenteng asli di Tiongkok..... :-))

Iwan juga banyak memotret kehidupan yang sangat menyedihkan dari keluarga dan warga CIBENG (Cina Benteng, Tionghoa Benteng ... :-) ),  suatu entitas yang digambarkan sudah tanpa masa depan sama sekali. Kepunahan yang lambat tetapi pasti merayap menerkam mereka, masyarakat yang telah kehilangan kampung halaman; tanah airnya tempat akar keluarga tertanam; mulai lahir; hidup berketurunan dan mati.  Jejak keturunan yang sedang dilindas tanpa kompromi oleh kekuatan ekonomi dan uang. Menimbulkan tanda tanya besar bagaimana cara pelestarian masyarakat ini sekarang ? langkah penyelamatan apa yang bisa di lakukan ? Banyak sudah diskusi, cerita romantis masyarakat Cibeng, musik cokek, gambang kromong , mungkin banyak lagi hal eksotis lain diceritakan secra
glorifikasi. Tetapi ketika kita sadar akan kepastian punah ke semua nya , bagaimanakah sebaiknya sikap kita.

Warga Tionghoa miskin, yang minta surat keterangan" miskin", tetapi selalu dianggap masih dalam kelompok " kurang mampu" oleh penguasa setempat.
Kesulitan bagi sebagian masyarakat, untuk keluar dari suatu setereotipe Tionghoa yang selalu berkecukupan dan makmur..... :-)) Mungkin tidak dapat mengerti bahwa sesama anak bangsa yang mana pun dapat jadi miskin.  Para petugas yang selalu berusaha akan mengutip lebih dari mereka etnis Tionghoa dalam segala urusan surat resmi. Suatu sikap dan pandangan dengan membuat sulit akan menghasilkan rejeki; melengkapi laporan ini. Diuraikan Iwan dengan cara sangat berempathy.

Cerita ringan rekaman Jakarta tempo doeloe dihubungkan dengan lokasi-lokasi yang pernah populer pada masanya, akan membangkitkan nostalgia mereka dengan usia yang pernah mengalaminya. Uraian Barongsai reformasi yang telah bertransformasi menjadi pertunjukan umum; cocok bagi setiap acara keramaian bagi setiap warga kota, pertunjukan yang telah melepaskan diri dari kebiasaan yang awalnya berkaitan erat dengan upacara budaya etnis Tionghoa. Semua tulisan rekaman sarat dengan harapan dan kenyataan bahwa hidup harmonis dengan saling menolong diantara sesama bangsa sudah ada pada seluruh lapisan masyarakat umum. Konflik banyak ditimbul hasil rekayasa yang berkuasa, dengan tujuan politik masing-masing masa , konteks sesaat.  Sebagaimana dengan ke kejamnya pembasmian pasukan PARAKU dan PGRS. Rakyat jelata yang sederhana selalu boleh dan akan selalu dikorbankan.

Kebhinekaan Indonesia di gambarkan dengan suku Serui di Papua, marga-marga di Maluku, hal menarik; yang sangat jarang muncul dalam uraian keTionghoam
di Nusantara. Banyak tulisan merekam pada pada kondisi terutama di pulau Jawa, selintas mengenai Sumatra, Kalimantan dan daerah-daerah lain.
Akan menyadarkan sebenarnya betapa luasnya tanah air kita ini masing-masing dengan ciri-ciri dan kondisi khususnya. Pemaksaan akan keharusan selalu berpendapat sama dalam segala hal, benar-benar mustahil. Indonesia bukanlah hanya pulau Jawa.

Dicatat juga dengan singkat mengenai perjuangan dan niat membangun Taman Budaya Tionghoa di TMII, kesulitan biaya yang dihadapi para pengagas proyek
yang boleh dikatakan idealis. Agaknya patut diingatkan juga agar taman budaya ini sebaiknya hanya merekam mengenai budaya Tionghoa yang pernah ada di bumi Nusantara. Sebaiknya -bila boleh diusulkan- di bantu oleh para ahli mengenai Tionghoa peranakan Nusantara . Yang betul-betul mengerti dan tahu materi yang dipegangnya. Jangan sampai terjadi , para penentu objek yang dipamerkan adalah pemberi dana sponsor, karena ketidak tahuan ; tanpa sengaja telah menjauh dari bumi Nusantara. Taman budaya Tionghoa di TMII , jangan sampai menjadi miniatur Taman Budaya Tiongkok di Indonesia .

Secara singkatnya, buku ini sangat baik dibaca untuk mendapatkan gambaran cepat, ringkas, selintas kondisi situasi sosiologis budaya warga etnis
Tionghoa peranakan Nusantara. Banyak info-info singkat yang dapat membangkitkan keingin tahuan lebih dalam, agar dapat mendukung kesimpulan sederhana yang kerap dikemukakan dalam tulisan-tulisannya. (Sugiri Kustedja)

free casino slot games online no deposit no download free spins casino no deposit mobile betway casino free spins no deposit casino deposit download free no required free download nodeposit casinos